Selasa, 08 Mei 2012

Menjadi Guru Jangan Setengah Hati


Oleh : Suhandi, M.Pd.I


Bismillahirrahmanirrahim,
Yang namanya setengah-setengah memang tidak akan pernah menghasil yang maksimal. Seorang guru yang datang ke sekolah kemudian di pikirannya juga memikirkan anaknya yang sedang sakit di rumah, pastilah ia tidak akan maksimal dalam mengajarnya. Seorang siswa yang datang ke sekolah untuk belajar kemudian di dalam pikirannya juga memikirkannya permainan games online di warnet, maka yakinlah belajarnya tidak akan maksimal. Seorang ibu rumah tangga yang sedang memasak kemudian di dalam pikirannya memikirkan suaminya yang sedang dirawat di Rumah Sakit, maka kualitas masakannya akan bekurang, bahkan bisa-bisa gosong atau kurang bumbu.
Begitulah memang, dalam setiap aktivitas yang kita lakukan hendaknya kita dapat menghadirkan ruh dan jasad kita. Hati dan pikiran kita senantiasa dihadirkan, sehingga dapat menggerakkan tubuh dan panca indera untuk melakukan aktivitas yang maksimal.
Dalam dunia pendidikan, seorang guru memberikan peranan yang strategis dalam mengawal siswanya menuju gerbang kesuksesan. Sehingga, paya yang maksimal dalam mencapai tujuan tersebut sangatlah diperlukan upaya-upaya menghadirkan ruh dan jasad dalam proses mendidik siswa, termasuk menjaga segala aktivitas baik di sekolah maupun di luar sekolah, karena sadar ataupun tidak, segala aktivitas tersebut akan berimbas kepada siswa.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang guru :
  1. Melururuskan Niat
Banyak ulama-ulama salam yang menuliskan bab niat ni di awal kitab-kitabnya. Ini sesuatu yang fundamental dalam menghasilkan sebuah amal yang produktif. Sebaga contoh, ketika pagi hari seorang guru berangkat dari rumah menuju sekolah, kemudian ia menancap gas motornya karena takut terlambat, malu namanya dipampang di papan keterlambatan, takut kehilangan reward kedisiplinan yang hanya Rp 50.000,00. Sesungguhnya ia telah salah dalam berniat. Manakala di perjalanan ia ditakdirkan terkena musibah, kemudian meninggal dunia, sepertinya ia akan meninggal dalam kondisi su'ul khatimah. Mengapa demikian? Karena dari awal kepergiannya ke sekolah, ia hanya mengharapkan urusan duniawi saja.
Alangkah indahnya, ketika seorang guru di pagi hari pergi ke sekolah, di tengah padatnya kendaraan, ia menancap gas sepeda motornya agar tidak terlambat ke sekolah. Ia ingin memberikan contoh kedisiplinan kepada siswa-siswinya, ia ingin menyambut kedatangan siswa-siswinya di gerbang sekolah, serta ia ingin mengawali kegiatan tilawah pagi di kelas beserta siswa-siswinya. Sekalipun ia di perjalanan menuju sekolah ditakdirkan Allah terkan musibah sampai meninggal dunia, Insya Allah ia meninggal dalam dalam keadaan husnul khatimah.
Kemudian dalam kondisi lain, terkadang profesi guru ini dijadikan sebagai profesi sampingan oleh sebagian orang yang tidak mampu bersaing di bidang lain. Dari pada tidak punya pekerjaan, ya jadi guru saja, karena mungkin prosesnya lebih mudah. Ini sebuah kondisi yang perlu diluruskan. Karena seseorang yang merniat menjadi guru hanya sebagai profesi kelas dua (sampingan), sesungguhnya tidak akan pernah bisa maksimal, karena ruhnya selalu berada di tempat lain, dan selalu mencari-cari peluang sukses di tempat lain. Padahal, peluang sukses yang ada di depan mata diabaikan.
Saya selalu terngiang-ngiang nasihat yang pernah dilontarkan oleh salah seorang guru saya ketika di SMA, ia berkata, “Han, kalau mau terjun pada sebuah profesi, cintai betul profesi itu karena pada suatu hari nanti, kamu pasti akan merasakan indahnya, nikmatnya profesi tersebut” Dari nasehat ini, saya meyakini bahwa memiliki profesi apapun, termasuk menjadi guru tidak bisa setengah-setengah. Semoga kita semua kalangan pendidik dapat meluruskan kembali niat kita selama ini. Yakinlah, menjadi guru akan mendapatkan keuntungan ganda, ke untungan di dunia dan keuntungan di akhirat.
2. Menerima Amanah dan Melaksanakannya dengan Tanggung Jawab
Ketika saya di pesantren dan kuliah masih tingkat I saya diminta oleh Kyai saya untuk menggantikan beliau mengisi ta'lim ibu-ibu pada hari ahad pagi. Pada awalnya saya kaget, minder, merasa gak mampu. Kenapa saya? Padahal masih ada dewan asatid lain.Kemudian saya kembali berpikir, “Tidak semata-mata Kyai saya memberikan amanah ini, kalau beliau tidak meyakini bahwa saya mampu
Dalam kesempatan lain, masih ketika saya di pesantren, saya untuk pertama kalinya diberikan amanah menggantikan beliau menjadi khatib juma'at di masjid tetangga pesantren, yang setiap jum'at kami shalat di sana. Saya sempat kaget dan heran. “Lho. Kok saya?” Maklum di kampung kan, kalo jadi khatib harus sudah sepuh, sudah menikah. Tapi saya kembali berpikir lagi, “Kyai saya pasti sudah menghitung kemampuan saya”
Dari kejadian tersebut, awalnya saya ragu, tapi kemudian saya tepis pikiran-pikiran tersebut. Saya yakin, bahwa sang Kyai sudah menghitung kemampuan saya, saya tidak boleh menyia-nyiakan amanah ini. Saya harus berhasil mengemban amanah ini, jangan sampai malu-maluin Kyai. Maka, sayapun buat persiapan, saya buka kitab-kita yang ada, saya abil beberapa tema, saya buat naskah dan ringkasan materinya, tak lupa saya bertanya dan berkonsultasi dengan santri-santri senior lainnya. Dan hasilnya, Alhamdulillah saya dapat tampil di depan ibu-ibu majlis ta'lim, saya dapat tampil di depan jama'ah shalat jum'at. Dan ternyata, demikianlah Kyai saya mendidik dan mengajarkan saya tentang aplikasi dari ilmu yang didapat selama ini. Dari pengalaman itu, sampai saat ini saya bisa memimpin ta'lim dan menjadi kahtib. Mungkin ketika itu saya menolak, tidak pernh saya punya pengalaman menjadi pengisi ta'lim dan khatib. Alhamdulillah, terima kasih guruku.
Dalam kesehariannya, seorang guru pastilah akan mengemban amanah, minimal amanah mengajar di kelas. Lantas bagaimana agar guru tersebut dapat melaksanakan amanah mengajar serta amanah lainnya? Ya, tanggung jawab. Karena tanggung jawab itulah yang nantinya akan mengukur ke-profesionalitas-an seorang guru. Dalam menjalankan fungsi pengajaran, tentunya ada berbagai hal yang harus dilakukan oleh guru, mulai dari membuat administrasi mengajar, penilaian, dan pelaporan. Memang terkadang kita merasakan berat membuat hal-hal di atas, tapi... ya memang harusnya demikian.
Selain tugas pengajaran, terkadang kita diberikan amanah lain di sekolah, seperti menjadi wali kelas, ketua pelaksanan kegiatan, koordinator bidang, dan lain sebagainya.
Dalam penetapan atau pemberian amanah tersebut, bukan tanpa pertimbangan. Jauh sebelumnya, seorang pimpinan pastilah telah melakukan berbagai pertimbangan tentang amanah yang akan diberikan kepada bawahannya, sehingga ketika kita diberikan amanah tersebut, yakinlah kita dapat melakukannya. Ketika kita berkeyakinan dapat melakukannya, Insya Allah kita akan diberikan kemudahan. tetapi bila kita ragu akan kemampuan kita, maka yakinlah kita akan mendapatkan banyak kendala. Justru dari sinilah seorang guru harus terus belajar dari semua hal yang kita lakukan.
3. Memberikan Keteladanan di Manapun dan Kapanpun
Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda : “Ittaqillaaha haitsumaa kunta, wa'atbi'issyayiatal hasanata tamhuha, wakhaliqinnaasa bi khuluqin hansan”. Artinya : bertakwalah kalian di manapun kalian berada, ikutilah perbuatan buruk kalian dengan perbuatan baik karena akan menghapuskannya, dan berinteraksilah sesama dengan akhlak yang baik”.
Menjadi guru tidak hanya di sekolah. Label guru yang kita sandang akan selalu melekat dalam diri kita di manapun kita berada, baik di sekolah, di rumah, di jalan, di pasar, dan ditempat lainya. Serta dalam kondisi kapanpu, baik ketika kita senang, sedih, marah, bahagia, gembira, banyak masalah, dan sebagainya.
Apa yang kita ucapkan dan lakukan lakukan di sekolah senantiasa menjadi perhatian siswa-siswi kita, baik cara bicara, kata-kata yang digunakan, cara berpakaian, sikap duduk, cara makan, sampai kedipan mata kita senantiasa diperhatikan.
Keteladan yang dilakukan oleh seorang guru hendaklah tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah, akan tetapi dimanapun dan kapanpun ia berada haruslah selalu dijaga, walapun siswa-siswi kita tidak melihat atau mendengarnya. Karena walau bagaimanapun, terdapat hubungan emosional yang dalam antara guru dengan murid.
Sebagai guru yang berada di sekolah Islam, maka aspek utama yang harus diprioritaskan dalam masalah keteladanan ialah masalah keteladanan batin (al-qudwah al-ruhiyah). Sebagai contoh, ketika guru mengajarkan siswa untuk selalu shalat berjama'ah di masjid,kemudian pada saatnya ia menggiring siswanya pergi ke masjid untuk shalat berjama'ah, itu belum cukup memberikan keteladan, sehingga ia (guru tersebut) ketika di rumah pun selalu melaksanakan shalat di masjid.
Wahai para mujahid-mujahidah tarbawiyah, sesungguhnya shalat kita, tilawah Al-Qur'an kita, shalat tahajjud kita, shalat dhuha kita, shaum sunnah kita, dan amalan-amalan lainnya akan besar dampaknya atau pengaruhnya terhadap anak-anak kita. Sehingga, kesungguhan kita dalam menjaga amalan-amalan tersebut merupakan perjuangan kita dalam memberikan keteladanan yang baik.
Wallahu A'lam Bish-Shawab

Gerakan Sadar Produk Halal


Oleh : Suhandi, M.Pd.I *)

Terlepas dari pro-kontra terhadap Rancangan Undang-Undang Jaminan Produk Halal (RUU-JPH) yang sedang dibahas di DPR-RI, kampanye terhadap gerakan sadar mengkonsumsi produk halal harus terus dilakukan, terutama di lingkungan pendidikan Islam. Beberapa hal yang dapat dilakukan gerakan sadar produk halal ialah :

Pertama, memberikan pengetahuan yang cukup tentang landasan syar’i kewajiban mengkonsumsi makanan dan minuman halal. Dalam Islam, mengkonsumsi produk halal merupakan ibadah, karena bagian dari ketaatan kepada Allah SWT. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam firman-Nya dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 168 yang artinya, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. Selain itu, pengetahuan masyarakat perlu diperkaya pula dengan manfaat yang akan didapatkan tubuh dengan mengkonsumsi makanan dan minuman halal, yakni lebih aman dan menguntugkan dari sisi kesehatan.

Kedua, mengenalkan label halal pada setiap produk kemasan. Hal ini sangat penting, karena setiap produk kemasan dapat dengan mudah mencantumkan label halal pada kemasan produknya. Label halal yang harus dikenalkan ialah label halal yang asli, yakni yang dikeluarkan oleh LPPOM-MUI. Mengapa harus label halal LPPOM-MUI? Karena di sana terdapat nomor register halal yang sudah dikeluarkan. Setiap produk yang terdapat label halal MUI insya Allah telah melalui proses pengujian laboratorium tentang kehalalannya. Untuk produk yang label halalnya tidak standar LPPOM-MUI, masih belum teruji dan bisa ditmpel oleh sembarang produsen.

Ketiga, memiliki standar pembelian produk kemasan. Standar yang paling mudah ketika umat Islam sudah mengetahui label halal yang asli ialah menjadikan label halal tersebut sebagai standar pembelian. Artinya, jangan pernah membeli produk kemasan yang tidak tercantum label halal yang sah. Label halal inipun selain memberikan ketentraman bagi konsumen, juga berpengaruh ke kualitas produk.

Keempat, selektif dalam memiliki makanan dan minuman. Mengkonsumsi makanan atau minuman tidak sekedar terasa enak di lidah atau justru korban iklan. Umat Islam saat ini harus memperhatikan betul bahan-bahan yang dipergunakan dalam membuat suatu produk.

Kelima, selektif terhadap produk yang masuk ke kantin sekolah. Untuk sekolah-sekolah Islam, menjamin produk yang masuk ke kantin sekolah merupakan satu kewajiban. Oleh karena itu, harus ada proaktif dari pimpinan lembaga untuk membuat kebijakan tentang kehalalan jajanan di kantin. Keuntungan yang besar bukanlah satu-satunya dasar penetapan produk lolos ke kantin, akan tetapi halal adalah satu hal yang sangat mendasar, karena keberadaan kantin merupakan sarana pembelajaran dalam lingkungan sekolah.***Wallahu A'lam
*) WKS Bidang Kesiswaan SMPIT Ummul Quro Bogor

Rabu, 21 Oktober 2009

‘SYETAN GENTAYANGAN’ DI INTERNET

Oleh : Abu Adhyan

Masya Allah.... Dasar syetan.... kerjaananya godain manusia biar terjerumus ke lembah kemaksiatan. Di manapun pasti ada. Di rumah, jalan, jembatan, pasar, kantor, semuanya pasti ada syetannya. Kalo ga percaya, coba aja cari sendiri.... Hi... serem!

Apa lagi sekarang zamannya teknologi, setiap orang dengan mudah mengakses internet kapanpun dan di manapun. Kalo dimanfaatin buat kebaikan, intertet itu pasti banyak kebaikannya, tapi kalo dmanfaatin buat keburukan, ya... buanyak banget mudharatnya.

D antara yang sangat mudah diakses via internet ialah situs-situs porno alias porosot nonghol, ya gitu dech... segala macem gambar and film yang ga’ bener dapat dilihat. Tinggal klik aja, udah dech kebablasan. Makanya wajar ketika Allah memberikan gambaran tentang pekerjaan syetan yang selalu menggoda umat ini, mereka tidak hanya berasal dari syetan bangsa jin, tetapi juga ada syetan yang berasal dari manusia.

Allah SWT berfirman, “ dan (syetan) yang selalu membisikkan di dalam dada (hati) manusia. (syetan) dari dolongan jin dan manusia” (QS. An-Naas (144):5-6).

Jadi, semua gambar atau film yang ga’ karuan itu hakikatnya adalah SYETAN yang lagi GENTAYANGAN. Mereka segaya dimasukkan oleh orang-orang yang berkarakter syetan agar umat manusia ini menjadi rusak, terutama kaum muda.

Satu-satunya jalan untuk menghindari godaan syetan yang gentayangan tersebut ialah memperkuat keimanan. Karena dengan keimanan yang baik, seorang mukmin merasa selalu diawasi oleh Allah SWT (Muqorobatullah).

SMPIT Ummul Quro Bogor

Senin, 19 Oktober 2009 pukul 10.30

Jumat, 09 Oktober 2009

MEMBANGUN KESADARAN SHALAT SISWA

Oleh : Suhandi Abu Adhyan


Bismillahirrahmanirrahim,

Memiliki anak yang sudah sadar dengan sendirinya dalam melaksanakan shalat lima waktu merupakan dambaan setiap orang, baik guru, orangtua siswa, maupun kebanggaan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Dalam kondisi saat ini, menanamkan kesadaran terhadap siswa untuk melaksanakan shalat lima waktu tidaklah mudah, karena banyak hal yang menggoda atau menghambat, terutama bentuk-bentuk perminan yang cenderung melenakan siswa akan kewajibannya

Pada kesempatan ini penulis akan memaparkan beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai kerangka dasar membangun kesadaran siswa dalam mendirikan shalat lima waktu. Hal-hal tersebut ialah :

  1. Memberikan pendidikan shalat yang benar

    Pendidikan shalat harus diterima oleh siswa harus benar-benar seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. baik dari segi bacaan maupun gerakannya. Hal ini mutlak harus diberikan karena Rasulullah SAW pun mengajarkan kepada kita demikian dalam sebuah hadits yang artinya : “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Bukhari)

    Pada saat ini sudah banyak media yang dapat dijadikan rujukan oleh para pendidik dalam mengajarkan shalat yang baik dan benar. Sehingga pendidikan shalat yang benar akan lebih mudah dilaksanakan.

  2. Evaluasi tiada henti

    Proses evaluasi atau mutaba'ah haruslah dilakukan secara periodik, bahkan setiap hari. Hal ini karena siswa melakasanakan shalat pun setiap hari, sehingga kontrol terhadap pelaksanaan shalat siswa-pun harus dilaksanakan setiap hari.

    Pada praktiknya, seorang guru di awal KBM pertama, atau ada kegiatan pra KBM yang dipandu oleh walikelas menanyakan secara umum tentang pelaksanakaan shalat hari kemarin. Dari sanalah nantinya didapat siapa saja yang sudah penuh lima waktu dan siapa yang masih ada yang terlewat. Untuk siswa yang pelum penuh lima waktu, maka harus dilakukan bimbingan khusus di akhir waktu shalat (ba'da shalat) yang diselenggarakan di sekolah.

  3. Reward dan Fanishment yang Proporsional

    Rasulullah SAW menhajarkan kepada kita agar menanamkan pendidikan shalat sejak dini. Dalam sebuah haditsnya, beliau SAW memerintahkan agar pendidikan shalat sudah diajarkan sejak usia 7 tahun. Ketika anak sampai usia 10 tahun masih belum mau melaksanakan shalat, maka berikan fanishment.

    Pembiasaan shalat siswa di sekolah maupun di rumah yang dievaluasi harus mendapatkan apresiasi, baik hasilnya positif maupun negatif. Untuk perkembangan yang positif, banyak hal yang dapat dilakukan oleh guru dan orang tua, bisa dengan pujian, nilai, hadiah, dan sebagainya. Pemberian reward ini tentunya tidak selamanya. Siswa harus terus difahamkan tentang tujuan shalat itu sendiri, sehingga shalat yang dilaksanakan nantinya betul-betul karena Allah SWT, bukan karena ingin mendapatkan imbalan. Reward di sini hanya sebagai perangsang di awal. Setiap satuan pendidikan (TK, SD, SMP, SMA) pastilah berbeda bentuknya.

    Dalam haditsnya, Rasulullah SAW menekankan pula aspek fanishment. Ini satu hal yang terkadang terlewatkan dalam pendidikan shalat. Rasulullah SAW sampai mengijinkan memukul siswa yang tidak mau melaksanakan shalat. Penerapan fanishment ini tentunya ada tahapan-tahapan. Bisa mulai dari teguran, normatif, administraif, sampai bentuk fisik. Faktor-faktor keselamatan dan efektifitas harus dikedepankan oleh guru dalam penerapannya. Prinsipnya, fanishment ni waib ada dalam menumbuhkan kesadaran shala siswa.

  4. Keteladanan Guru yang Totalitas

    Ada sebuah ungkapan yang sangat populer di kalangan pendidikan kita, yaitu “Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari”. Ungkapan tersebut memang sarat dengan makna keteladanan yang harus dimunculkan oleh guru terhadap muridnya, lebih-lebih masalah shalat.

    Di antara yang dapat dilakukan sekolah dalam membangun keteladanan ialah dengan menyelenggarakan shalat secara berjamaah di waktu sekolah. Untuk sekolah-sekolah yang menerapkan sistem full day shool, dapat melaksanakan shalat Zhuhur dan Ashar, sementara sekolah yang sampai siang, minimal shalat Zhuhurnya berjamaah. Sehingga, keberadaan masjid di sekolah atau di lingkungan sekolah sangat menentukan pelaksanaan program ini.

    Keteladanan guru tidak hanya dinampakkan di hadapan siswa, akan tetapi di luar lingkungan sekolahpun tetap harus dilakukan. Karena mengajarkan shalat merupakan upaya membangun keshalihan hati, maka menjaga keshalihan hati oleh setiap guru sebuah keharusan. Ketika sampai di rumah, guru enggan pergi ke masjid untuk shalat berjama'ah, maka jangan berharap banyak siswa pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Makanya tidak heran, bila ada seorang siswa ketika di sekolah selalu melaksanakan shalat di masjid, tetapi di rumah enggan pergi ke masjid bahkan berani meninggalkan kewajiban shalatnya.

    Selain itu, ketetaladan ini tidak hanya tugas guru agama saja, tetapi semua guru akan menjadi teladan bagi semua siswa, sehingga membangun kesadaran shalat bagi seluruh guru yang ada di sekolah haruslah dilakukan lebih awal.

  5. Sinergi Sekolah dengan Orangtua Siswa

    Keberadaan siswa di sekolah tidaklah selamanya, apalagi sekolah-sekolah umum yang waktu belajarnya singkat, sehingga harus ada program yang berkesinambungan antara sekolah dan orang tua dalam membangun kesadaran shalat. Orang tua tidak bisa melepaskan begitu saja, atau menyerahkan semua urusannya kepada sekolah (terima beres) saja, akan tetapi harus ikut menjaga shalat anaknya yang sudah dibangun oleh sekolah.

    Dalam menyinergikan program ini, orang tua hendaknya menyempatkan shalat bersama anak-anak mereka, apakah di mesjid bagi laki-laki atau di rumah. Selain memberikan keteladanan, orang tua dapat melihat sejauhmana kualitas shalat anak-anaknya.

    Sinergi yang lain ialah dengan memberikan laporan tertulis tentang perkembangan kasadaran shalat siswa kepada orang tuanya, minimal ketika pembagian laporan hasil belajar, termasuk menyampaikan kejadian-kejadian khusus terhadap perkembangan shalat siswa yang positif maupun yang negatif.

    Program lain yang dapat dilakukan ialah dalam bentuk Pray Call, yaitu guru dalam kesempatan tertentu menelepon atau SMS siswa mengingatkan shalat, baik shalat wajib maupun sunnah. Program ini dikomunikasikan dengan rangtua agar di rumah didukung oleh orangtua masing-masing.

  6. Mendo'akan siswa dalam setiap kesempatan

    Do'a adalah senjata yang dimiliki oleh kaum muslimin. Selain melakukan tahapan di atas, dalam melengkapi upaya agar siswa/anak memiliki kesadaran untuk shalat, ialah dengan selalu mendo'akannya. Di antara do'a yang masyhur yang bisa dibacakan ialah, “Robbij 'alna muqiimash-sholaah wa min dzurriyyatina, Robbanaa wa taqobbal du'aa” artinya, “Ya Rabb, jadikanlah kami beserta keturunan kami (hamba) yang selalu mendirikan shalat, Ya Rabb kami, kabulkanlah do'a kami”.

    Guru dan murid memiliki ikatan emosional yang erat, karena pada dasarnya keberadaan mereka ketika di sekolah bagaikan akankanak yang berada dalam sebuah keluarga. Gurulah orang tuanya. Kedekatan emosional ini menjalin sebuah hubunagn ruhiyahyang erat, sehingga do'a-do'a yang dipanjatkan oleh guru akan berdampak/berpengaruh positif terhadap perkembangan siswanya.

    Ada seorang guru yang memiliki murid susah melaksanakan shalat, baik shalat wajib, lebih-lebih shalat sunnah. Ketika ditegur untuk melaksanakan shalat sunnah, dengan ringan ia menjawab, “Ah, shalat sunnah ini, Pak. Kan, ngga wajib.” Akan tetapi, ia tetap memberikan nasihat akan pentingnya shalat serta selalu mendo'akannya setiap ba'da shalat, terutama pada saat shalat malam. Hasilnya, alhamdulillah lambat laun terdapat meningkatakatan kesadaran untuk melaksanakan shalat.

Wallahu A'lam Bish-shawab